Bagi yang sering melakoni trip Labuan Bajo atau sekadar browsing cara ke sana pasti gak asing dengan nama Phinisi karena jadi salah satu transportasi mewah yang ditawarkan agen travel. Lebih dari itu, Phinisi tak lain adalah kapal asli Indonesia yang eksistensinya melegenda.
Sejarah Phinisi gak terlepas dari suku Bugis yang menyandang julukan pelaut handal. Merekalah pembuat kapal tangguh Nusantara yang kekokohannya sanggup menjelajah seluruh samudera. Jangan cuma kagum dengan kemegahannya, kamu juga perlu tahu seluk beluk kapal Phinisi ini.
Sekilas Tentang Kapal Phinisi
Sejarah Phinisi diawali sejak abad ke-14. Pada saat itu, rata-rata ukuran kapal yang dibuat cenderung kecil sekitar kurang dari 30 meter. Suku Bugis biasa mengarungi laut dengan Phinisi untuk membawa barang dagangan dan keperluan lain.

Sampai abad ke-19, jumlah Phinisi yang berhasil dibuat melebihi 100 kapal. Angin muson musiman dimanfaatkan para pelaut Bugis agar mereka bisa berlayar ke arah Barat selama 6 bulan. Lalu, 6 bulan setelahnya gantian berlayar ke timur.
Dari dulu, Phinisi dibuat secara tradisional dan sampai sekarang pun suku Bugis tetap mempertahankan cara itu. Material utama yang dipakai juga masih sama yaitu kayu. Keahlian mereka membuat kapal gak ada lho yang nyamain karena suku Bugis punya teknik khusus.
Asal-Usul Kapal Phinisi Menurut Naskah Kuno
Kapal Phinisi punya julukan ‘Mahakarya Nenek Moyang’ karena para pendahulu suku Bajo membuat konstruksi kapal yang kuat dan tampilan luar yang gagah. Sebagai buktinya, Phinisi sanggup dibawa menjelajah samudra ke seluruh dunia oleh pelaut Bajo yang dikenal tangguh.
Tulisan tentang sejarah Phinisi ada di dalam naskah kuno yang bernama Lontarak I Babad La Galigo. Menurut cerita, orang yang pertama kali membuat kapal yang jadi cikal bakal Phinisi adalah Sawerigading. Ia merupakan seorang pangeran Kerajaan Luwu Purba yang ada di Sulawesi Selatan.

Pangeran Sawerigading jatuh cinta pada We Cudai, seorang putri dari Tiongkok. Maka dari itu, ia butuh kapal untuk berlayar ke sana setelah memutuskan buat melamar sang putri. Pada naskah itu, perjalanan pergi Sawerigading lancar dan selamat sampai tujuan.
Justru masalah datang pas perjalanan pulang karena tiba-tiba cuaca gak bersahabat. Ada badai besar datang dan kapal yang pangeran naiki gak mampu bertahan. Akhirnya, kapal pecah jadi tiga bagian, tapi untungnya semua penumpang selamat.
Pecahan kapal terdampar di 3 daerah berbeda yaitu Tanah Lemo, Ara dan Tanjung Bira. Bagian badan kapal ditemukan di Ara, bagian layar kapal ditemukan di Tanjung Bira dan isi kapal ada di Tanah Lemo.
Kejadian itu gak membuat mereka sedih dan putus asa. Para penduduk justru bersemangat membuat ulang kapal dari pecahan-pecahan yang terdampar di 3 wilayah itu. Alhasil, kapal Phinisi baru berhasil mereka buat dengan sempurna.
Sejarah Phinisi yang dirakit kembali oleh 3 penduduk dari pulau berbeda ternyata punya filosofi yang bagus. Hal itu menandakan bahwa tidak boleh ada pertumpahan darah antara penduduk di 3 pulau karena mereka harus hidup akur dan saling menolong.
Selain itu, masing-masing bagian kapal yang ada di tiap pulau juga punya hubungan dengan keahlian khusus dari warganya. Bagian tubuh kapal yang ada di Ara menunjukan bahwa penduduk di sana ahli soal membuat kapal.
Bagian layar yang ada di Tanjung Bira menunjukan bahwa warga setempat menguasai ilmu perbintangan. Terakhir adalah bagian isi yang jadi simbol bahwa penduduk Tanah Lemo punya banyak modal untuk membiayai pembuatan kapal.
Kemampuan itulah yang menjadikan penduduk di 3 wilayah jadi bisa gotong royong untuk menghasilkan kapal Phinisi tangguh kebanggaan suku Bugis.
Proses Pembuatan Kapal Phinisi
Kapal Phinisi yang melegenda ternyata dibuat oleh orang-orang pilihan saja. Penduduk setempat percaya kalau pengerjaan diserahkan ke sembarang orang dalam jumlah banyak malah akan membuat kapal jadi jelek.
Lalu, apa saja tahapan yang dilalui suku Bugis dalam membuat kapal Phinisi?
- Proses upacara sakral yang wajib dilakukan sebelum kapal dibuat;
- Kemudian, mereka akan memilih hari baik untuk mencari material kayu. Biasanya, waktu yang dipilih antara hari ke-5 atau ke-7 di bulan tertentu karena kedua angka itu merupakan simbol keberuntungan bagi mereka;
- Persiapan sesaji yang berisi satu ekor ayam jago berwarna putih dan aneka jajanan manis. Mereka percaya bahwa sesaji bisa mendatangkan keuntungan dan keselamatan bagi kapal;
- Tahap selanjutnya adalah pemotongan kayu pertama yang dilakukan oleh Panrita Lopi alias sang pawang kapal;
- Saat bagian pondasi kapal sudah dibuat, maka darah ayam jago putih bakal dioleskan ke salah satu sisinya agar kapal terhindar dari bahaya;
- Lalu, mereka akan meletakkan ‘lunas’ dengan mengarahkan benda itu ke timur sebagai simbol keperkasaan pria;
- Bagian ujung ‘lunas’ yang tersisa bakal dikasihkan ke Panrita Lopi. Satu bagian akan dilarung ke laut sebagai simbol harapan akan keselamatan kapal selama berlayar dan bagian satunya lagi disimpan di daratan sebagai simbol bahwa kapal pasti akan kembali;
- Pembuatan Phinisi diakhiri dengan memanjatkan doa khusus yang dipimpin oleh pawang kapal.
Fakta Menarik Kapal Phinisi
Menurut catatan sejarah Phinisi, kapal ini tahan terjangan ombak besar dan badai walaupun dikerjakan murni dengan tangan. Konon, kayu yang digunakan untuk kapal Phinisi akan semakin kokoh kalau sudah terkena air laut.
Selain itu, masih ada lagi hal menarik dari kapal Phinisi kebanggaan Indonesia ini, antara lain:
- Pembuatan kapal sama sekali gak pakai paku dan alat perekat apapun. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan potongan kayu sebagai pasak
- Pembuatan kapal bukan diawali dari menyusun kerangka tapi langsung eksekusi ke bagian badan kapal. Wah, hebat banget kan?
- Punya 7 tiang yang menyimbolkan jumlah samudra di dunia sekaligus sebagai lambang jumlah ayat di surat Al-Fatihah
- Punya 2 tiang utama yang menyimbolkan 2 kalimat syahadat
- Pernah sukses berlayar sampai Afrika, Amerika, dan tentu saja Asia
- Punya pabrik asli di daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan
- Ada 2 jenis kapal yang awet dibuat sampai sekarang yaitu Phinisi Palari dan Phinisi Lambo
Sejarah yang menarik dan panjang, kan? Memang gak salah kalau ada lirik lagu ‘nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera’ karena Phinisi jadi bukti nyata yang ada sampai zaman modern ini.
Tapi kamu gak harus mengarungi samudera biar bisa naik kapal Phinisi, kok. Kamu bisa naik Phinisi yang ditawarkan oleh agen wisata trip Labuan Bajo untuk menjelajah gugusan pulau yang ada di Kepulauan Komodo.
Hal itu karena adanya pergeseran fungsi dari yang tadinya cuma untuk menunjang armada laut menjadi armada wisata mewah. Para investor tajir banyak yang membeli kapal Phinisi untuk disulap jadi kapal pesiar yang dilengkapi fasilitas hotel bintang 5.
Harganya cukup fantastis antara 500 juta rupiah sampai 1 miliar rupiah per kapal. Sedangkan tarif sewa untuk para wisatawan yang memilih transportasi kapal Phinisi, mulai dari 3,5 jutaan rupiah sampai lebih dari 5 jutaan rupiah tergantung tipe kapal dan kelengkapan fasilitas. Tertarik gak, nih?