Menjadi destinasi wisata premium yang menyuguhkan eksotisme alam dan pemandangan melihat komodo, Labuan Bajo terus berbenah agar dapat memenuhi kebutuhan pengunjung. Pembangunan Kota Labuan Bajo pun terus mengalami perkembangan.
Rencana pembangunan di Labuan Bajo merupakan wacana dari pemerintah untuk membuat Labuan Bajo menjadi tujuan wisata super premium, dikarenakan adanya KTT G-20 dan Asean Summit yang akan diselenggarakan pada tahun 2023.
Rencana Pembangunan di Kota Labuan Bajo
Jalan tol rencananya akan didirikan di area Labuan Bajo. Hal ini untuk menyambut pertemuan KTT G-20 yang akan diadakan pada tahun 2023.
Pembangunan tol masih dalam tahap perencanaan dan diharapkan pembangunan ini tidak akan merusak lingkungan. Dengan begitu, habitat komodo bisa dijaga dengan baik.

Masyarakat yang diwadahi organisasi WALHI NTT menegaskan bahwa mereka menginginkan adanya pembangunan yang tidak melibatkan perampasan ruang hidup masyarakat (pemukiman maupun lahan pertanian).
Untuk mendapatkan itu semua, maka pemerintah harus melakukan koordinasi dengan perwakilan masyarakat. Dengan komunikasi yang baik serta mengutamakan keadilan, maka pembangunan jalan tol di Labuan Bajo bisa direalisasikan.
Selain jalan tol, penunjang prasarana lain juga telah dilakukan pemerintah, di antaranya adalah peningkatan trotoar, jalan, dan drainase.
Proyek ini dilakukan sepanjang 16,8 km mulai dari Jl. Soekarno Atas, Jl. Soekarno Bawah, Jl. Simpang Pede, Jl. Yohanes Sehadun, dan area kawasan pariwisata Waecicu.
Pembangunan Kota Labuan Bajo ini diharapkan dapat memberikan fasilitas yang layak dan bersih kepada pengunjung, sehingga pengunjung merasa lebih nyaman berwisata.
Destinasi Wisata dalam Pembangunan Kota Labuan Bajo
Untuk menyambut 2023, banyak sekali pembenahan di area wisata yang dilakukan. Hal ini sebagai bentuk persiapan untuk menyambut wisatawan asing yang diperkirakan akan mengalami lonjakan di tahun 2023.
Beberapa area wisata yang mengalami pembenahan adalah:
1. Puncak Waringin
Area wisata ini direncanakan akan menjadi pusat souvenir. Untuk itu pembenahan dilakukan dengan membangun pusat souvenir. Pembangunan ini juga dilengkapi dengan taman, mushola, toilet, ruang pos jaga, ruang genset, area parkir, dan penyediaan area jalan setapak.
Dengan fasilitas yang lebih lengkap, diharapkan pengunjung dapat berbelanja souvenir dengan nyaman dan aman.

Selain direncanakan sebagai pusat souvenir, Puncak Waringin juga akan dijadikan pusat creative hub. Puncak Waringin akan dijadikan pusat kegiatan kreatif dan pusat penjualan produk kreatif dari penduduk lokal Labuan Bajo.
Di sini akan dibangun pusat-pusat pertunjukan seni khas lokal untuk melestarikan budaya asli Labuan Bajo. Selain terdapat pusat-pusat pertunjukan seni, karya kreatif masyarakat pun bisa dijual di pusat souvenir.
2. Goa Cermin
Goa Cermin terus berbenah dengan adanya pembuatan jalur trekking menuju goa. Jalur trekking ini diperbaiki agar pengunjung bisa leluasa berjalan menuju goa sambil melihat pemandangan alam sekitar.
Selain itu, fasilitas penunjang lain juga dibangun seperti kantor pengelola, loket, area parkir, auditorium, kafetaria, toilet, hingga pusat informasi.
Pusat budaya berupa amphitheater dibangun di area wisata Goa Cermin untuk mendukung kegiatan seni dari penduduk lokal, sehingga mampu menarik wisatawan lokal maupun asing.
3. Pulau Rinca
Pulau Rinca juga menjadi destinasi wisata yang terkenal selain Pulau Komodo. Untuk itu, pembangunan dilakukan di pulau ini dalam bentuk peningkatan sarana dan prasarana. Pulau Rinca juga direncanakan menjadi salah satu destinasi andalan Labuan Bajo.

Untuk keperluan pembangunan, saat ini Pulau Rinca sedang ditutup dan kemungkinan akan dibuka lagi pada bulan Maret 2021.
Pulau Rinca didesain akan menjadi ‘Jurassic Park’-nya Indonesia dengan pembangunan geopark. Nantinya pengunjung dapat melihat komodo secara langsung di alam dengan jarak yang aman di gedung.
Namun, komodo tidak akan terganggu habitatnya karena posisi gedung yang cukup tinggi dan terdapat area kosong di bawah untuk komodo berlarian atau mencari makan.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Selama Pembangunan Kota Labuan Bajo
Pembangunan Kota Labuan Bajo memang terus dilakukan demi tujuan wisata premium di masa mendatang. Untuk itu, dalam pembangunannya, pemerintah selalu memperhatikan 3 hal, yaitu:
1. Fokus Data Jumlah Komodo
Jumlah komodo harus terus dipantau dengan sumber data yang jelas dan akurat. Jumlah komodo selalu dicek agar tidak mengalami penurunan. Hal ini untuk menjaga keberlangsungan hidup hewan purba yang hanya ada di Indonesia ini.
2. Melibatkan Masyarakat dalam Pembangunan Kota Labuan Bajo
Komunikasi aktif dengan masyarakat lokal selalu dilakukan, agar pembangunan tidak merampas hak milik warga serta warga dapat berperan aktif dalam pembangunan ini. Warga juga selalu dilibatkan untuk perencanaan wisata agar bisa menjadi bagian di dalamnya.
3. Komunikasi Kontinyu
Komunikasi kontinyu selalu dilakukan antara pemerintah, masyarakat, dan semua pihak yang terkait dengan pembangunan. Hal ini guna mendapatkan keselamatan kerja dan demi menjaga habitat komodo tetap terjaga.
Komunikasi dengan masyarakat juga terus dilakukan agar mendukung pembangunan dan mengurangi penolakan.
Dampak Perubahan Sikap Komodo
Peneliti banyak menyimpulkan bahwa perubahan sikap komodo terjadi seiring dengan banyaknya pertemuan dengan manusia. Sifat komodo liar adalah menjauhi manusia sedangkan komodo saat ini banyak yang familiar dan tidak menjauhi manusia.
Namun, perubahan ini masih dirasa wajar dan tidak mengganggu keberlangsungan hidup komodo. Hal ini dapat dilakukan karena adanya penjagaan yang ketat, di mana pengunjung hanya dapat melihat komodo dari jarak aman dalam paket wisata di Labuan Bajo.
Jumlah Populasi Komodo
Walaupun dilakukan pembangunan masif menyongsong wisata premium, data dari berbagai pihak menyebutkan bahwa populasi komodo masih stabil dan tidak terjadi penurunan.

Menurut data dari KLHK, jumlah komodo totalnya adalah 2.897 ekor pada tahun 2018. Sedangkan pada tahun 2.019 jumlahnya sebanyak 3.022 ekor. Jumlah populasi ini dirasa masih stabil di tengah pembangunan yang terjadi.
Pembangunan utama tidak dilakukan di area dengan jumlah populasi komodo yang sangat banyak, untuk menghindari terganggunya habitat asli komodo.
Saat ini, populasi komodo yang paling banyak terdapat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Sedangkan populasi dalam jumlah kecil dijumpai di Pulau Padar, Gili Motang, dan Nusa Kode.
Menyambut Wisata New Normal
Walaupun sedang berbenah, beberapa lokasi di Labuan Bajo tetap dibuka bagi kamu yang ingin mengikuti paket wisata Labuan Bajo. Namun, tentunya terdapat protokol kesehatan yang harus dipatuhi, di antaranya adalah:
- Melakukan swab test sebelum berangkat.
- Selalu memakai masker.
- Membawa hand sanitizer.
- Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum memasuki area wisata.
- Selalu menjaga jarak aman 1 meter dan tidak berkerumun dengan orang banyak.
Selain mematuhi protokol kesehatan di atas, wisata new normal di Labuan Bajo juga dibatasi jumlah pengunjungnya per hari. Sehingga kamu perlu menanyakan ke petugas terlebih dahulu sebelum merencanakan perjalanan dan membeli tiket pesawat.
Selain itu, kamu sebaiknya bepergian dalam jumlah sedikit untuk menghindari adanya kerumunan di tengah pandemi corona. Pembangunan yang terjadi di Labuan Bajo diharapkan dapat meningkatkan pariwisata nasional, namun tetap memperhatikan habitat hidup komodo. Kawasan konservasi komodo tetap dijaga dengan baik agar hewan purba ini tetap bisa hidup lama tanpa mengalami kepunahan