Yuk Mengenal Lebih Dalam Adat Dan Rutinitas Suku Manggarai

Dipublikasikan oleh incefuad pada

taka makassar manta point (1)

Indonesia adalah negara yang terkenal mempunyai keanekaragaman budaya, suku, bangsa, bahasa dan sumber daya alam. Salah satu suku yang sampai saat ini masih ada yaitu suku Manggarai.

Jika tertarik mengetahui seputar kehidupan, kegiatan harian dan kebudayaan di dalamnya maka saat berkesempatan mengikuti wisata Labuan Bajo sebaiknya kamu meluangkan untuk berkunjung ke sana.

Sejarah Suku Manggarai

Suku di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini memiliki populasi sebanyak 350.000 jiwa. Berkat tradisi dan kebudayaan yang sangat beragam membuat suku tersebut populer di Indonesia maupun di kancah internasional.

Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Manggarai yang memiliki beragam dialek. Contohnya adalah dialek Pae, Rejong, Mabai, Mbaen, Manggarai Tengah, Pota, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

Empat di antara kedelapan dialek di atas yaitu Rejong, Pae, Mbaen dan Mabai menjadi bahasa sebuah kelompok suku tersendiri yang pada zaman dahulu tunduk terhadap orang-orang Manggarai.

Berdasarkan sejarahnya, dahulu ada sebuah kerajaan yang berdiri di Manggarai. Hal ini terbukti dengan adanya sisa-sisa yang ditinggalkan berupa dalu. Pengertian dalu adalah pembagian wilayah tradisional yang dimasukkan dalam suatu wilayah adat.

Tercatat ada 39 dalu di Manggarai, dimana masing-masing dalu memiliki seorang penguasa yang disebut wau atau klen. Dalu terdiri atas beberapa glarang, kemudian di bawahnya ada beo atau kampung-kampung.

Orang-orang yang merupakan wau dan dominan di dalam dalu sering menganggap sebagai seorang bangsawan. Biasanya antar dalu akan menyelenggarakan perkawinan tungku, sistemnya yaitu perkawinan silang antar sepupu.

Tidak sedikit pula terjadi perkawinan antara glarang dengan dalu. Alasannya karena pada umumnya penguasa glarang adalah seorang wau yang dominan.

Seorang dalu adalah bawahan kerajaan yang dipimpin Kraeng Adak. Seorang kraeng yang berjasa maka raja akan memberinya gelar Sangaji.

Kehadiran wau di sini menyebabkan adanya lapisan sosial yang terlihat jelas. Akan tetapi, saat ini pelapisan tersebut sudah mulai menghilang.

Masyarakat terbagi menjadi 3 golongan, yaitu golongan bangsawan yang bergelar kraeng, golongan ata lahe atau rakyat biasa dan terakhir mendi atau golongan hamba sahaya.

Aktivitas Kehidupan

  1. Mata Pencaharian

Mayoritas pekerjaan masyarakat adalah bercocok tanam baik di sawah ataupun ladang. Jenis tanaman yang biasa ditanam antara lain jagung, sayuran, ubi kayu, buah dan padi.

Aktivitas lainnya adalah beternak. Hewan yang dipelihara adalah kuda, sapi, babi, kerbau, ayam, dan anjing. Selain itu, juga ada yang pergi melaut.

  1. Agama

Agama yang dipercaya oleh orang-orang Manggarai bermacam-macam dan dibedakan berdasarkan kedaulan. Daerah kedaulan sebelah timur banyak yang menganut agama Katolik.

Sedangkan, kedaulan bagian barat, selatan dan utara mayoritas memeluk agama Islam dan sebagian kecil mempercayai agama Protestan. Ternyata, sisa-sisa kepercayaan lama juga  masih dijumpai di beberapa tempat.

Misalnya memuja andung atau empo yang dianggap sebagai nenek moyang. Hal ini merupakan kebiasaan rutin masyarakat terdahulu.

Dewa tertinggi yang dipercaya adalah Mori Karaeng. Masyarakat sangat berhati-hati dengan gangguan berbagai makhluk halus bernama naga, pelesina dan golo.

  1. Kekeluargaan

Susunan kekeluargaan di Manggarai terdiri atas keluarga inti atau cak kilo. Setiap keluarga inti akan bergabung ke dalam kilo, sebuah keluarga luas yang terbatas dan biasanya juga dikenal dengan nama keluarga batih patrilineal.

Kilo yang mempunyai kakek moyang sama bersatu menjadi klan yang disebut sebagai panga. Pada zaman sekarang, panga-panga digunakan sebagai sumber penamaan kekerabatan.

  1. Kesenian

Kesenian yang digeluti masyarakat antara lain seni sastra, desain, musik, kriya (seni rupa) dan tari. Kesenian yang paling terkenal adalah songket dan kriya.

Beragam peralatan musik tradisional yang sering digunakan suku ini adalah gong, tinding, sunding dan tambor. Pada bidang teknologi, masyarakat memiliki keahlian membuat bermacam-macam alat rumah tangga dan perkakas untuk menunjang kehidupan.

  1. Olahraga Tradisional

Jenis olahraga yang terkenal adalah caci. Pada olahraga ini melibatkan dua orang laki-laki. Pertarungan berlangsung di lapangan rumput Kota Ruteng. Keduanya saling memukul dan memperlihatkan kemampuan dalam menangkis menggunakan temeng serta pecut.

Syarat mengikuti olahraga caci adalah ahli dalam memukul, mahir menangkis berbagai serangan, melakukan gerakan tari dengan luwes, penampilan atletis dan bersuara merdu.

Biasanya, pertunjukan diawali dengan tarian khusus bernama Danding atau Tandak Manggarai. Gerakan para penari sangat energik dibandingkan gerakan pada tari Sanda Lima maupun tari Vera.

Penari juga turut menyanyikan lagu-lagu dengan lirik yang membakar semangat pemain caci untuk bertarung. 

Pelajaran yang bisa dipetik lewat pertarungan tersebut adalah berlatih mengontrol emosi. Walaupun pemainnya saling mencambuk sampai terluka, namun tetap mengedepankan sopan santun. Hal ini tercermin di setiap ucapan, gerakan dan sikap hormat terhadap lawan. 

Upacara Adat

Salah satu tradisi yang hingga kini tetap dilakukan masyarakat adalah upacara ritual sebagai wujud ucapan syukur warga atas kehidupan yang sudah berjalan dalam kurun waktu tertentu. Adapun serangkaian prosesinya adalah sebagai berikut:

  1. Ritual Penti Manggarai

Ritual dilakukan seluruh warga untuk merayakan sekaligus syukuran atas hasil panen yang didapatkan. Acara diawali dengan berjalan dari rumah adat ke lingko yang diberi tanda kayu teno.

  1. Ritual Barong Lodok

Upacara yang satu ini bertujuan mengundang roh yang bertugas menjaga di area tengah kebun atau pusat lingko untuk mengikuti semua prosesnya. Kepala adat akan memulai dengan Cepa, yaitu aktivitas memakan sirih, kapur dan pinang.

Acara selanjutnya adalah Pau Tuak, yaitu minuman tuak yang terdapat di dalam bambu disiram ke tanah lalu menyembelih babi untuk para leluhur.

Tujuannya agar tanah tersebut mendapat berkah, memberi penghasilan dan terhindar dari malapetaka. Masyarakat juga melantunkan lagu Sanda Lima yang diulang 5 kali.

Setelah itu, rombongan pulang ke rumah adat dengan diiringi lagu-lagu bersyair gembira dan berisi penghormatan kepada padi.

  1. Ritual Barong Wae

Masyarakat memiliki kepercayaan bahwa ada roh leluhur yang menunggu sumber mata air. Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyediakan seekor ayam dan satu butir telur untuk dipersembahkan kepada leluhurnya.

  1. Ritual Barong Compang

Ritual adat ini diselenggarakan di malam hari untuk memanggil roh bernama Naga Galo yang dipercaya mampu menjaga kampung-kampung. Selama ini Naga Galo dianggap berperan besar melindungi dari bencana seperti angin topan, kebakaran hingga kerusuhan.

  1. Ritual Wisi Loce

Masyarakat akan mengundang semua roh terlebih dahulu untuk menunggu selama beberapa saat sebelum acara puncak penti berlangsung. Caranya dengan mengadakan ritual wisi loce.

  1. Ritual Libur Kilo

Ritual ditujukan sebagai bentuk rasa syukur atas kesejahteraan keluarga dari setiap rumah adat. Acara diakhiri dengan diskusi yang dilakukan kepala adat di kampung, kepala adat yang berperan membagi tanah, ketua sub klen, kepala keluarga dan tamu undangan.

Banyak informasi menarik yang bisa dipelajari dari kehidupan suku Manggarai ketika mengikuti paket wisata Labuan Bajo. Tentunya, hal ini akan memperkaya pengalaman hidup, wawasan sekaligus pengetahuan kamu.

Kategori: blog wisata

×

Hello!

Click our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to [email protected]

× Need help?