Salah satu perahu yang sangat populer di Indonesia dan banyak digunakan adalah pinisi. Perahu yang satu ini memiliki sejarah panjang dalam penggunaannya di Indonesia. Lantas, tahukah kamu bagaimana asal mula kata pinisi itu?
Asal mula kata ini menjadi sangat menarik karena ada beberapa teori yang mendasarinya. Yuk, cari tahu lebih lengkap seputar perahu pinisi pada artikel berikut ini!
Asal Mula Kata Pinisi
Kalau kamu berpikiran bahwa “pinisi” adalah nama dari jenis kapal atau perahu, maka hal ini salah besar. Pada dasarnya, pinisi adalah sebuah sistem layar, tiang, dan tali yang bisa kamu temukan terpasang di lambung kapal.
Jadi setiap kapal yang menggunakan sistem seperti ini, memiliki nama sebagai pinisi. Contoh kapal dengan sistem pinisi adalah Palari dan Lambo atau Lamba. Terdapat 2 (dua) teori yang mendasari tentang asal mula kata pinisi.
Pertama, pinisi adalah serapan dari kata panisi yang punya arti sisip. Kata ini berkaitan dari bahasa orang Bugis yang memang pertama kali menggunakan sistem perahu pinisi. Lopi dipanisi’ dalam bahasa Bugis memiliki arti perahu yang disisip.

Kemudian dari kata itulah terjadi proses fonemik sampai akhirnya menjadi sebutan pinisi seperti sekarang. Teori kedua, kata pinisi berasal dari kata Venesia dari Italia. Di negara tersebut, Venesia adalah nama untuk kota pelabuhan.
Menurut teori ini, kata Venesia kemudian berubah fonemik menjadi pinisi berdasarkan dialek Suku Konjo yang berasal dari Sulawesi. Banyak yang mendasari teori ini pada kebiasaan orang Bugis Makassar.
Dimana orang Bugis sangat suka memberi nama benda kesayangan mereka dari nama tempat terkenal. Jadi asal mula kata phinisi bisa kamu dasarkan pada kedua teori tersebut. Yang jelas, istilah pinisi merujuk pada sebuah sistem layar kapal.
Sejarah Kapal Phinisi
Perahu pinisi berasal dari Sulawesi Selatan, tepatnya dari Suku Bugis. Suku ini sangat tersohor akan kepandaian mereka untuk mengarungi lautan luas tidak hanya di nusantara, tapi sampai ke berbagai belahan dunia lain.
Perahu ini menggunakan layar pinisi yang memiliki 7 sampai 8 layar. Layar tersebut kemudian terpasang di dua buah tiang yang ada di depan belakang. Kapal pinisi terbuat dari jenis kayu ulin yang memang terkenal akan kekuatan kayunya.
Pada zaman dahulu, perahu pinisi menjadi kebanggan dari Kesultanan Makassar. Sebab dengan perahu inilah mereka bisa mengarungi lautan dan menjadi sebuah kerajaan maritim yang berkuasa dan sangat kuat.

Sampai saat ini, nilai sejarah kapal pinisi juga sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Sejak akhir tahun 2017, UNESCO menobatkan seni membuat kapal yang menggunakan sistem pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Pada zaman dahulu, fungsi kapal pinisi bagi Suku Bugis adalah untuk transportasi. Mereka akan menggunakannya untuk pergi berdagang ke berbagai wilayah lain. Para pejabat kerajaan dan raja juga umumnya akan menggunakan kapal ini.
Di masa sekarang, penggunaan kapal pinisi pun masih ada. Hanya saja fungsinya sebagian besar sudah bergeser dan berubah. Saat ini kamu bisa menemukan kapal pinisi sebagai perahu wisata yang punya nilai komersial khususnya untuk wisata di Labuan Bajo misalnya.
Biasanya berfungsi sebagai kapal pesiar mewah dengan interior yang lebih modern dan terlihat mahal. Di dalamnya juga sudah banyak peralatan menyelam yang lengkap dan menjadi kapal untuk keperluan liburan.
Komponen dan Proses Pembuatan Kapal Pinisi
Secara umum, ada beberapa komponen yang menjadi ciri khas penyusun dari kapal ini. Berikut adalah komponen tersebut:
- Anjong, berada di depan kapal dan berfungsi sebagai segitiga penyeimbang
- Sombala, merupakan layar utama dan biasanya memiliki ukuran yang besar bahkan bisa mencapai 200 m
- Cocoro Pantara, sebagai layar bantu yang ada di depan
- Cocoro Tangnga, sebagai layar bantu yang ada di tengah
- Tarengke, sebagai layar bantu yang ada di belakang
- Tanspasere, merupakan layar kecil dengan bentuk segitiga. Bisa kamu temui pada tiap tiang utama kapal.
Dengan karakteristik tersebut, proses pembuatan kapal pinisi juga menyimpan keunikannya tersendiri. Berikut adalah proses pembuatan dari kapal ini:
1. Menentukan Hari yang Baik
Sebelum pembuatan kapal biasanya akan terjadi penentuan hari yang baik. Tujuan hari baik ini adalah untuk mencari kayu bahan pembuatan kapal pinisi. Biasanya hari baik tersebut jatuh di hari ke 5 dan ke 7 di setiap bulannya.
Umumnya kayu yang akan menjadi bahan pembuatan pinisi adalah ulin. Selain ulin, ada juga kayu punaga atau kandole, kayu jati, dan kayu bikti. Tergantung persediaan kayu saat itu.
2. Mengolah Kayu
Apabila sudah mendapatkan kayu, maka bisa lanjut pada tahap selanjutnya. Tahap kedua adalah menebang, mengeringkan, dan memotong kayu tersebut. Setelah itu, kayu yang sudah terpotong akan melalui proses perakitan menjadi perahu utuh.
Kemudian barulah akan dipasang papan, memasang lunas, mendempul badan kapal, dan melakukan pemasangan tiang layar. Tahapan ini akan memakan waktu yang lama, tidak jarang sampai berbulan-bulan agar menjadi kapal yang utuh.
3. Meluncurkan Kapal ke Laut
Setelah jadi, barulah kapal bisa berlayar di lautan lepas. Akan tetapi, sebelumnya akan terjadi upacara-upacara adat tertentu. Umumnya upacara tersebut bertujuan untuk mensucikan kapal dengan cara menyembelih binatang.
Binatang yang disembelih pun bisa berbeda. Prinsipnya, kalau berat kapal tidak sampai 100 ton, maka cukup menyembelih satu ekor kambing saja. Sebaliknya, kalau berat kapal lebih dari 100 ton, maka harus menyembelih satu ekor sapi.
Penutup
Itulah informasi yang bisa kamu simak mengenai kapal pinisi. Sekarang kamu sudah tahu kan asal mula kata pinisi itu? Kapal ini memang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat besar.
Tidak heran kalau dunia pun mengenalnya sebagai sebuah sistem kapal yang berharga dari Indonesia. Semoga dengan informasi ini, kamu bisa lebih mengenal kapal pinisi ya!